Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Selamat Jalan, Hutan.

Gambar
Hari ini terasa sangat sedih dan menyakitkan. Hutan di seberang rumah benar-benar ditebang. Sepertinya, akan dibangun jalan. Benar-benar sedih rasanya, penebangan kali ini terasa sangat nyata, seperti mengatakan bahwa ini benar-benar akhir dari semuanya. Setelah kekhawatiran yang kerap muncul akan hilangnya pemandangan monyet-monyet tiap hari di depan rumah. Tumbangnya satu per satu pohon di seberang menjawab semuanya. Akhir, dari memori masa kecil, ketenangan, dan kebahagiaan dalam memandang hutan. Memandang hutan di saat gelisah, sedih, atau pun marah benar-benar memberi ketenangan bagi diriku. Seperti ada teman yang menemanimu duduk di saat kamu kalut tapi tidak mengganggumu. Justru, keberadaanya membuatmu tenang dan membuatmu tersenyum simpul. Menikmati hijaunya, sejuknya angin yang kamu rasakan dan kamu lihat saat daunnya bergerak, suara-suara burung, monyet, atau hewan lainnya, pergerakan pohon akibat monyet-monyet yang melompat hilir mudik tiap pagi dan sore hari. Belum lagi

Bergerak

Pikiran yang terlalu jauh kadang buat kita lupa, kalau kita masih tertinggal di tempat. Kita yang sibuk berpikir, tapi tidak menuangkan pikirannya adalah sia-sia. Selalu ada yang kecil untuk menjadi besar. Selalu ada yang kecil untuk menjadi lengkap. Selalu ada yang kecil untuk merubah arah. Selalu ada yang kecil untuk memulai langkah.

Memendam

Memendam semua dengan diam adalah cara terbaik yang bisa dilakukan. Memendam semua dengan diam adalah cara paling terakhir yang bisa dipilih. Memendam semua dengan diam adalah cara yang paling berlawanan dari yang biasa dilakukan. Memendam semua dengan diam adalah cara yang menyakitkan, tapi paling menyenangkan hati orang lain. Memendam semua dengan diam adalah cara yang menyisakan bekas pada hati yang memilih diam.

Pupuk Kompos

Gambar
Beberapa hari yang lalu, saya baru saja 'unboxing' pupuk kompos racikan sendiri. Saya bikin kompos dari sisa-sisa bahan dapur, seperti kulit/batang sayuran, kulit buah-buahan,  sisa nasi, dll. yang dicampur dengan tanah. Bikinnya cukup mudah. Sediakan karung, masukkan tanah, lalu sisa dapur di atasnya, tutup lagi dengan tanah, kemudian karung diikat.  Besoknya, bisa masukkan kembali sisa dapur ke dalam karung, lalu tutup lagi dengan tanah. Begitu seterusnya hingga karung penuh, lalu tunggu tiga bulan, dihitung sejak waktu bahan terakhir dimasukkan. Banyak hal menarik yang terjadi saat membuat kompos. Misalnya, daun bawang yang justru tumbuh di dalam karung kompos. 😂 (unknown saat pertama lihat)  (daun bawang setelah dikeluarkan dari tanah) Bukannya terurai, tapi justru tumbuh. Hal ini juga berlaku sama ujung umbi dan kulit singkong yang malah tumbuh akar. Kalau tidak ingin tumbuh, mungkin bisa dipotong kecil-kecil lebih dulu sebelum dimasukkan ke dalam k

Gelisah

Rasa kaget, rasa takut, rasa sedih, rasa marah. Semua rasa-rasa lainnya. Semuanya, datang tanpa jeda.  Akhirnya hanya bisa diam. Tidak tahu lagi harus bagaimana. Ingin teriak, tidak bisa. Ingin menangis, tidak bisa. Ingin pergi, tapi tidak bisa.  Terlalu campur aduk, hingga mati rasa. 

Mereka

Kalau mereka berbeda,  saya memilih tutup mata. Tidur kembali,  seperti malam ini. Kalau mereka bersama, saya membuka mata kembali. Entah kapan, semoga pagi ini.

Kebodohan Anak IPA

Banyak hal baru yang saya pelajari saat mulai 'bertaman' di halaman rumah. Saya baru tau, kalau bekicot itu makan tanaman. 🙃 Padahal, sejak kecil saya sudah berkenalan dengan bekicot. Berani memegang cangkangnya, membaca dongeng tentangnya, hingga memakan keripik bekicot. Meskipun sudah sampai tahap itu, ternyata saya belum mengenalnya lebih jauh. Berawal dari bekicot yang tertangkap basah sedang memakan tunas anggrek, 😭 sejak saat itu, saya bertekad menyingkirkannya dari halaman. Setiap pagi, saya mencarinya di sela-sela tanaman. Sayangnya, bekicot ini banyak banget ternyata. Gak habis-habis. Dari situlah saya baru tersadar satu hal. Saya gak tau ini bekicot bertelur apa melahirkan. 😂 Kan gak lucu dong, udah tiap hari dicari, terus ternyata dia makhluk bertelur dan meninggalkan telurnya. Antara bertelur atau melahirkan, saya putuskan untuk meneruskan pencarian saja, menunggu ditemukannya telur bekicot, atau justru menemukan bekicot yang lagi melahirkan, kalau beruntun

Tak Berujung

Gelisah, cemas, khawatir. Itu yang kita rasa. Bingung mau mulai dari mana, bingung bagaimana menyelesaikan semuanya. Bingung sama diri sendiri yang gini-gini aja.  Seringnya pikiran sudah berjalan terlalu jauh. Tapi kita masih tak beranjak dari sini. Seringnya kita sudah kepayahan menangis. Tapi kenyataan yang menyakitkan itu belum terjadi.  Untuk mengakhiri, bagaimana caranya untuk mengakhiri?  Itu, yang selalu kamu tanya padaku.

Refleksi Hari Kemarin

Beberapa hari yang lalu, kami sekeluarga mendapat kesempatan membuat nasi bungkus untuk dibagikan dalam rangka 'buka puasa on the road.' Kami bikin di dua hari berbeda. Hari pertama bikin nasi dengan lauk ayam merah, tahu, dan tumis buncis. Hari kedua bikin nasi pecel dengan lauk telur goreng. Jujur. Ini pertama kalinya saya bikin nasi bungkus dalam jumlah banyak. Targetnya 100 bungkus/hari. Dengan tenaga kerja cuma ibu dan saya, ditambah bapak yang bantuin ngebungkus di akhir. Tentu saja, dengan tenaga kerja seperti saya yang masih amatir dan bapak yang cuma bisa bantu sebentar, ibu saya kewalahan. Target pun tidak tercapai. Hanya sekitar 80an bungkus di hari pertama dan 70an bungkus di hari kedua. Memang benar pernyataan yang saya dengar sambil lalu saat melewati selasar Fisipol. Pengisi diskusi saat itu bilang, kalau orang miskin itu tetap miskin sepanjang hidupnya bukan karena malas, tapi karena sistem yang ada, alias kemiskinan struktural. Dia bilang, kurang rajin apa

Selamat Datang #31HariMenulis

Setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya saya kembali lewat #31HariMenulis. Woro-woro kembalinya Bang Wiro di twitter membuat saya membuka lagi blog ini.  Cukup kaget melihat postingan terakhir saya termuat pada tahun 2017. Membuat saya berpikir, apakah sebegitu lamanya saya berkutat dengan masalah menghadapi diri sendiri dan penyesuaian hubungan dengan manusia yang lain? Sehingga tak sempat untuk membuat postingan baru. Membaca postingan terakhir pun mengingatkan saya pada masa itu, galau mengerjakan skripsi dan berujung pada kecemasan. Hahahahaha. Tulisan, memang menjadi jejak. Membaca tulisan saya sampai tuntas di blog ini, membawa saya kembali pada masa tulisan itu dibuat. Mengingatkan saya pada masa-masa piyik menjadi anak kuliahan, hingga masih piyik saat ini meski sudah lulus. Hehe. Meski banyak tulisan saya yang tidak jelas, dari tulisan-tulisan di blog ini saya dapat melihat diri saya. Melihat persamaan yang kerap muncul dalam setiap tulisan dapat menggambarkan karak