Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2015

Last Day of #31HariMenulis

AHAHAHA. Hari ini hari terakhir. Hari terakhir saya di #31HariMenulis tahun ini. Akhirnya bisa bernafas lega setelah terkena tujuh sabetan kapak bang wiro. Hiks. Tujuh men. It's mean 140 ribuku lenyap di saat yang tak tepat. Harapan saya dari #31HariMenulis tahun ini adalah saya diberi keringanan beban dengan diberikan perpanjangan waktu oleh abang untuk membayar denda alias ngutang. Bang wiriwir, saya lagi bokek bang. Entaran dulu ya bayarnya. Saya bayar diri saya dulu untuk dapat bertahan hidup di tengah ujian ajakan buka bersama dan ujian nafsu dunia akhir semester 4 ini bang. Bay bang! Siya for neks #31HariMenulis. Semoga abang dapat move on dari gua gelap ke gua yang lebih terang. Hahaha. Berasa bang wiro sedang berdiam diri di gua hingga turun wahyu berupa cahaya. Wkwkwk. Ngelantur nulisnya.

Ujian Kedua

Gambar
Ramadhan Rasa UAS. Buka puasa bersama udah ga jaman. Sahur bersama dong, luweh yahud. 

Muhasabah

Jadi sholat tarawih pertama tahun ini terjadi di masjid gedhe. Asupan pertama yang aku dapat tadi soal muhasabah. Muhasabah mengenai mudahnya kita saat ini untuk melaknat orang lain, apalagi lewat media sosial. Padahal masalahnya cuma sederhana, cuma masalah perbedaan pendapat. Cuma itu yang bisa aku tulis. HAHAHA. Tulisan apaan ini -_-

Ramadhan

Hai uas. Halo ramadhan yang banyak terabaikan. Sudah banyak waktu yang terlewati hingga kini hampir bertemu ramadhan lagi. Alhamdulillah masih diberi kesempatan merasakan ruwetnya kewajiban yang bejibun, uas yang dikerjain dari lama tapi ga kelar2, dan sulitnya menjaga interaksi/hubungan dengan orang lain. Ramadhan kali ini aku berharap agar aku bisa terlatih dengan baik di bulan ramadhan dan dapat menerapkannya di bulan-bulan berikutnya. Semoga aku dapat menjadi lebih baik dan bermanfaat bagi banyak orang.

Terserah

Setidaknya aku butuh satu orang yang mengerti bahwa aku bajingan. Jadi aku tak perlu bersusah payah pura-pura baik di depannya. Tak perlu sok jaga imej dan sok punya malu di depannya. Aku bisa bertingkah semauku, bertindak gila sesukaku dan berteriak sesenangku. Aku bisa tertawa terbahak-bahak, menangis terisak atau meraung sejelek-jeleknya aku menangis. Aku juga bisa mengoceh tanpa henti dan mengomel sekuatku. Marah-marah seperti orang gila. Atau berjoget ria sambil melompat kegirangan. Aku hanya butuh setidaknya satu orang yang mengerti segala keburukan dan kebusukanku tanpa perlu berkomentar, tanpa perlu memberi nasehat atau menggunjing aku di belakang.

Anjal #part1

Saya suka bingung mau nulis apa. Jadi saya putuskan untuk berbagi sedikit tentang kegelisahan saya soal anak jalanan. Melihat anak-anak hidup di jalanan terlihat tak terurus hingga larut malam membuat berbagai macam perasaan atau pikiran terlintas di benak berbagai macam orang. Ada yang merasa kasihan, cuek, memandang rendah, atau bahkan menghina. Penilaian orang lain bisa jadi berbeda-beda berdasarkan banyak hal. Tapi saya pikir, penilaian pemerintah terhadap anak jalanan memiliki pengaruh yang besar terhadap penilaian masyarakat mengenai anak jalanan. Seperti menyoal perda larangan memberikan uang bagi pengemis atau pengamen yang tidak sedikit merupakan anak jalanan. Apalagi iklan-iklan layanan masyarakat yang ada contohnya di Jogja menampilkan gambar anak-anak jalanan dengan inti kalimat untuk tidak memberikan uang dengan tujuan untuk menyelamatkan mereka. Ada juga iklan yang menyebutkan kata malas sehingga terbentuk statement dalam benak kita bahwa mereka adalah orang yang mal

Satu hal

Tindakanmu berasal dari pikiranmu mengenai dirimu. Apakah kamu pemain atau pendukung. Apakah kamu aktor utama atau figuran. Apakah kamu memilih inisiatif bertindak lebih dulu atau menunggu orang lain memotivasimu. 

Kita

Kita miliki waktu yang sama Apa yang kita lakukan yang membuat kita beda

Bodoh

Malam termakan siang Siang ditelan malam Lantas mau bilang apa lagi? Masa sudah berganti Bisu bukan berarti diam Berkata bukan berarti berbicara Berpikir saja tak akan mengubah keadaan Bermimpi akan tetap menjadi khayalan Kata proses kamu jadikan alasan Tapi kesalahan yang berulang?

Gadis Lilin

Gadis itu menatap dirinya Mengamati seksama Dari luar hingga dalam hatinya Dirinya bak nyala lilin Yang rentan mati Yang rentan sendiri Tetapi dirinya bak nyala lilin Yang masih menyisakan kehidupan Yang masih punya harapan Gadis itu menatap lilinnya Memilih meniup apinya atau membiarkannya

Open House SSChild Jogja

Gambar
Yukyuk yang mau gabung save street children jogja. Dateng jaa. Gausah ragu. Siapapun bisa ikut kok. Kalau mau tanya-tanya dulu juga bisa, dateng aja langsung. Bisa juga tengok-tengok medsosnya. Ada twitter, fb, ig, dan blog. Keywordnya: sschildjogja. Atau tanya-tanya saya jg bisa :)

Berdua

Dalam lelap malam setiap orang memiliki kerinduan. Menjadi pujangga dalam setiap perasaan. Merenungi nasib. Memikirkan keadaan. Berharap waktu berhenti sejenak untuk sekedar menghela nafas.  Dalam beberapa waktu aku kadang terpikir soal waktu. Soal detik yang telah kuhabiskan bersama langit yang berganti warna. Soal penghabisan tiap malam. Soal aku yang telah berubah waktunya, menjadi lebih dewasa yang semakin dekat dengan penghabisan masanya.  Semua yang telah kulakukan pada akhirnya hanya meninggalkan aku dan diriku pada akhir malamnya. Bertanya. Berbicara para diriku tentang apa yang terjadi. Tentang masa lalu, masa kini, dan ketakutan masa depan. Aku, yang tiap akhir malamnya, akhir hidupnya berbicara para diri sendiri soal diri kami sendiri. Aku, merasa takut. Karena hanya sisa aku dan diriku dalam tiap malam akhir hidupku yang saling berbicara. Hanya kami berdua. Padahal aku berada dalam tiap akhir malam kehidupan. Bukan hari akhir, hari kematian. Dan aku menjadi sem

Hidup

Hidup itu dibawa santai aja. Tapi bukan berarti hidup itu digunakan untuk main-main. Hidup itu memang proses, tapi bukan berarti dijadikan alasan penunda keberhasilan. Hidup itu ya hidup. Jadi jangan habiskan waktumu dengan kesedihan. Yang paling pasti, hidup itu seperti jalan. Pasti ada ujungnya.

Keluarga

Gambar
Ada banyak hal yang terlewatkan beberapa hari ini. Saya bersyukur kali ini diberikan kesempatan lebih merasakan kasih sayang keluarga dari pertengkaran-pertengkaran kecil kami dan omelan yang tak henti dari bapak. Saya pikir, disitulah rasa kangen bapak terhadap anaknya terlihat. Karena lama tak bersama maka bapak tak henti bicara meski dalam omelannya dan gerutuannya.  Meski beberapa puluh ribu melayang karena lupa dan kebablasen untuk #31HariMenulis. Tapi tak apalah, saya bisa mendapatkan uang lebih karena keluarga disini. Hahaha Selamat bersenang-senang keluarga yg pagi ini akan ke Jatim dan meninggalkanku  di Jogja dengan setumpuk tugas dan ujian take home. Have a nice week :)

Dedek Gede

Gambar
Happy graduation little sist :) Selamat datang di dunia perkuliahan. Selamat memulai kehidupan seru yang mendebarkan *alay Maaf tak bisa menjadi kakak yg mengucapkan 'selamat ulang tahun' Selamat menjadi lebih dewasa tahun ini ^^